Seorang pemuda yang sedang meratapi nasibnya sore itu, di sebuah telaga kecil ia hampir tak berdaya dengan apa yang dihadapinya, “Oh…malangnya nasibku, sekian lama aku mengaji di pesantren itu, tak paham pula aku mencerna ilmu dari ustadz, imriti tak hafal, nahwu-shorof tak paham, qiroatul kitab….duhh…apa lagi. Benar- benar malang nasibku, aku sering dimarahi ustadz dan diejek teman karena kebodohanku, ya Allah…aku sudah mantap kabur dari pondok. Aku tak sanggup menimba ilmu di sana. Lebih baik, aku berkelana mencari arti hidup ini.” Sambil mengusap tetesan air mata di pipinya, ia masih termenung di telaga itu.
Pemuda itu bernama Syukron, pemuda yang putus asa setelah ia balajar di sebuah pondok pesantren. Ia merasa tak mendapat hasil apa-apa. Ia putus asa, ia sudah berusaha tapi tak bisa. Ia memutuskan kabur dari pesantren itu.
Siang itu semakin terik terasa, punggung Syukron yang terpanggang panas matahari. Ia masih duduk termenung di sebuah telaga kecil itu. Hingga mentari hampir terbenam, ia masih duduk merenung.
Tiba-tiba, datanglah seorang petani tua yang pulang dari sawah, petani tua itu bernama Mbah Aki. Kakek itu melihat seorang pemuda yang termenung dan menangis di telaga itu, kemudian ia pun menghampirinya, “Nang Cah Bagus, apa yang sedang kau lakukan di telaga ini? Tidak baik melamun di tempat sepi seperti ini, bisa kemasukan setan lho!” kata kakek itu kepada Syukron. “Kakek ini siapa? Tak perlu kakek risaukan aku. Kan aku orang yang tidak berguna Kek…” jawab Syukron. “Ah….apa yang kau katakan  Nak, kamu ini ada-ada saja,perkenalkan namaku Aki, panggil saja saya dengan Mbah Aki. Namamu siapa Nang cah Bagus?” Tanya Kakek. “Namaku Syukron Mbah Aki,aku benar-benar bodoh Mbah, aku tak hafal Imriti, nahwu-shorof tak paham, qiroatul kitab apa lagi. Kuputuskan kabur dari pondok Mbah..” Syukron menjelaskan kepada Mbah Aki.
Dengan tersenyum, kakek itu mengajak Syukron ke rumahnya, di rumah Mbah Aki, Syukron disuguhi segelas air putih, “Syukron, silakan kau minum air ini!” kata kakek sambil memberikan segelas air putih itu, “Bah….!!!!!” Syukron menyemburkan air gelas itu dari mulutnya. ”Apa yang Mbah berikan kepadaku? Air ini asin sekali!” Gerutu Syukron kepada Mbah Aki. Sambil tersenyum Kakek itu berkata, “Nah, sekarang kau akan ku ajak ke telaga tadi, ayo ikut Mbah”. “Kenapa Mbah kita ke telaga lagi?” Tanya Syukron penasaran. “Sudahlah ikut saja! Kau akan tahu jawabannya nanti”. Jawab Mbah Aki dengan tenang.

Sesampainya di telaga, kakek itu menghanyutkan butiran garam. “Nah, air telaga ini sudah aku beri garam sama dengan garam yang diberikan pada air gelas yang kau minum tadi. Sekarang kau minum air telaga ini Nak.” Pinta Mbah Aki kepada Syukron. Syukron pun meminumnya, “Wah…segar sekali Mbah, tidak asin sama sekali.”
Mbah Aki pun mengajak Syukron duduk di pinggir telaga, “Nang Cah Bagus Syukron, gelas dan telaga tadi adalah hati, jika hatimu sesempit gelas, maka masalah apapun akan terasa berat. Seperti air gelas yang diisi garam, akan sangat terasa asin. Lain halnya jika hatimu seluas telaga ini, maka masalah apapun akan terasa ringan, seperti air telaga yang diberi garam, tak akan terasa asin, malah akan terasa segar. Jadilah kau seorang pemuda yang memiliki hati seluas telaga, agar masalah apapun yang kau hadapi, akan kau hadapi dengan ringan atau tak terasa berat dan tak menyakitkan. Ingat Syukron, Kau masih muda, masih banyak prestasi yang harus Kau raih, masih banyak ilmu yang harus Kau dapat, masih terbentang harapan luas di depanmu, raih semua itu Syukron! Kau harus semangat!!” Jawab Mbah Aki. “Oh…begitu Mbah, kini aku mengerti, aku akan meraih ilmu, meraih prestasi, dan mencari harapan di depanku. Aku akan kembali ke Pesantren Mbah. Aku pasti bisa!!”. Kata Syukron dengan semangat. “Bagus Nak, pulanglah  ke pesantren, di sana kau akan mendapat apa yang kau cita-citakan, bersemangatlah Syukron!”  Mbah Aki memberi semangat kepada Syukron.
Syukron pun berpamitan dengan Mbah Aki, Ia menuju pesantren dengan semangat baru dan harapan baru.

By: Santri SL_3