KH.Ihsan Jampes adalah putra seorang ulama. Sejak kecil beliau tinggal di lingkungan pesantren. Nama kecil beliau adalah “BAKRI” ayahnya bernam KH. Dahlan. Beliau dilahirkan pada tahun 1901 di desa Jampes Jawa Timur.

Kegemaran syeh Ihsan saat remaja adalah nonton wayang sambil di temani secangkir kopi dan rokok. Dan yang membuat khawatir keluarganya adalah kegemarannya bermain judi. Hingga suatu hari ayahnya yaitu KH.Dahlan mengajaknya berziarah ke makam seorang ulama bernama KH.Yahuda yang juga masih ada hubungan kerabat dengan ayahnya. Disana ayahnya bermunajat kepada Allah supaya putranya bisa sadar dan insyaf. Kemudian ayahnya juga memohon kepada Allah kalau saja putranya masih seperti itu, maka supaya di beri umur pendek agar tidak membawa mudharat bagi semua umat. Selepas ziarah tersebut, suatu malam syeh Ihsan atau sering disebut Bakri itu bermimpi didatangi oleh seorang berwujud kakek tua sedang membawa batu yang sangat besar yang siap di lempar ke kepala syeh Ikhsan sambil berkata “Hai cucuku, kalau engkau tidak menghentikan kebiasaan burukmu yang suka bermain judi, maka aku akan melemparkan batu besar ini ke kepalamu.” Kata kakek tersebut. Kemudian syeh Ihsan menjawab “Apa hubungannya kakek denganku? Mau berhenti atau tidak itu bukan urusan kakek.” Tiba-tiba dengan seketika sang kakek tersebut melempar batu itu ke arah syeh Ihsan hingga pecah kepalanya. Disaat itu juga syeh Ihsan langsung terbangun dari mimpi buruknya dan seraya berucap ”Astaghfirullah…..apa yang sedang terjadi padaku? Ya Allah ampunilah dosaku”. Bisik syeh Ihsan.

Sejak saat itu juga syeh Ihsan menghentikan kebiasaan buruknya dan mulai mencoba menimba ilmu dari satu pesantren ke pesantren lainnya di pulau Jawa. Beliau banyak mengambil restu dan berkah dari para ulama di Jawa, diantaranya seperti: KH.Sholah Darat Semarang, KH. Hasyim Asy’ari dan KH. Muhammad Kholil Bangkalan Madura.

Cara beliau belajar di pasantren tidak seperti santri pada umumnya, beliau hanya belajar kurang lebih dua bulan. Setelah kitab yang beliau kehendaki khatam, beliau pamit dan meminta restu dari kyainya kemudian pindah ke pesantren lainnya lagi. Begitu seterusnya hingga sekitar tahun 1932 syeh Ihsan mulai menetap dan mengajar. Hari-hari sering beliau gunakan untuk mengajar dan menulis kitab dengan di temani secangkir kopi dan rokok yang menjadi ciri khas beliau.

Begitu banyak karya-karya beliau yang di akui oleh para ulama Nusantara bahkan sampai ke Internasional. Diantara karya-karyanya adalah:

  1. Kitab di bidang ilmu falak yaitu kitab ”Tashrih al Ibaroh” yang merupakan syarah atas kitab ”Natijat al Miqot” karya KH. Ahmad Dahlan Semarang.
  2. Kitab di bidang ilmu fiqih yaitu kitab ”Munajihul Imdad” kitab ini menjadi munaskrib yang tersimpan di perpustakaan Kairo Mesir selama bertahun-tahun.
  3. Kitab ”Irsyadu al Ikhwan fi Bayani al Hukmu al Qohwa wad Dukhon”, kitab ini merupakan kitab yang paling unik diantara kitab-kitab yang lainya. Karena ketika para ulama memperdebatkan hukum rokok dan kopi, beliau malah menjadi penengahnya. Dengan memperbolehkan dan mengharamkan rokok dan kopi dengan alasan-alasan tertentu.
  4. Dan masih banyak lagi.

Pada tanggal 15 September 1952 beliau di panggil oleh Allah.

Demikianlah biografi syeh Ihsan yang tidak pernah belajar di Mekkah tetapi kemampuan bahasa dan ketrampilannya dalam menulis sangat luar biasa. Walaupun namanya tidak pernah muncul di surat kabar maupun televisi seperti ulama-ulama lainnya, namanya akan selalu harum di dalam kitab-kitab yang dikarangnya.

Semoga Allah membalas semua amal perbuatannya sesuai dengan apa yang beliau sumbangkan untuk umat islam semuanya.Amiin……………….